Jumat, Maret 16, 2018

Kutinggalkan Bayiku Pergi Haji 9 - Melempar Jumrah Yang Penuh Perjuangan

Prosesi melempar jumrah hari pertama kemarin memang sangat berkesan. Bagaimana kami berhasil bertahan berjalan pulang pergi sejauh 6 km, belum lagi kelelahan sejak menunggu bis dari tadi malam. Namun alhamdulillah bisa diselesaikan juga.. 
Itu saja rasanya udah setengah mati. Malam hari selesai sholat Isya berjamaah dan makan, acara diisi dengan tausiah singkat oleh pak pembimbing, dzikir bersama dan membahas rencana untuk pelemparan kedua.

Hari kedua prosesi pelemparan jumrah, kami pikir rasanya akan lebih mudah.
Sepertinya sih lebih pede ya... Hmm, padahal ternyata hari ini adalah hari yang super beraaaat.. Gimana ceritanya ? Monggo, baca aja selanjutnya ya..
_____________________

Pagi buta, jam 2 pagi semua sudah dibangunkan untuk mulai bersiap. Yang ke toilet harus segera mengantri untuk mandi dan bebersih, untungnya masih sepi. Masih sempat sholat malam dan makan roti juga minum teh hangat.
Lalu kami berbaris rapi dan berangkat menuju Masjidil Haram untuk Thawaf. Lagi-lagi kami kesulitan mendapat kendaraan, akhirnya setelah berjalan sekitar 1 km agak menjauhi lokasi tenda Mina, dapat juga bis yang cukup untuk dimasuki kami serombongan. Gapapa deh rada sesempitan bareng dengan jamaah dari Pakistan. Alhamdulillah bisnya ber AC.
Memasuki jalanan kota Makkah, mulai macet dan tersendat-sendat.
Mulai khawatir, ...duuh bisa dapat Subuh di Masjidil Haram ga ya ?
Berdoa dan dzikir yang banyak biar ga khawatir melulu, dan semoga Allah mudahkan.
Kami melewati hotel tempat menginap di Mekkah... Rombongan jadi ribut, ooh rindunya sama kamar, kasur dan bantal. "Kapan kita balik kesini ya Pak ?" beberapa teman bertanya ke Pak Pembimbing. Selama ini di tenda cuma tidur di karpet dan beralas mukena yang dilipat-lipat.. Begitu deh yaa..jadi manyun..
Walaupun kamar di hotel Mekkah ga senyaman kamar di rumah, tetap saja setelah ditempa tidur seadanya di perkemahan Arafah dan Mina jadi hal yang dirindukan saat ini... hehehe..

Setibanya di dekat jalan yang menuju pinggiran pelataran Masjidil Haram, kami harus berjalan kaki lagi karena bis sudah tidak boleh mendekat. Alhamdulillah, mendekati waktu Subuh, alur manusia membanjiri Masjidil Haram, dan kami salah satunya.
Karena ramai, akhirnya rombongan berpencar untuk mencari tempat. Kami janjian untuk bertemu lagi di area selesai Sai. Alhamdulillaah, saya dapat tempat di lantai dua dekat area Sa'i bersama ibu-ibu satu rombongan kami. Suasana disini sangat syahdu. Pilar-pilar Masjidil Haram melengkung besar-besar, menjadi bingkai suasana pagi. Langit malam mulai bergaris memerah menyambut adzan diantara suara burung yang bersahutan mengiringi pagi. Beruntung juga, pak suami tak jauh dari situ ada di barisan para pria. Setidaknya hati jadi tenang.

Selesai sholat subuh kami mulai prosesi Thawaf Ifadah untuk tanda tuntas selesainya ibadah haji. Wah kebayang ga, jutaan manusia beniatan yang sama. Masjidil Haram penuuuh sesak. Melongok dari atas, rasanya tidak mungkin thawaf di sekeliling Kakbah, karena di bawah sepertinya gerakan thawaf melambat saking padatnya orang. Masya Allah.. 
Akhirnya kami memutuskan berthawaf di lantai dua. Tentu saja dengan resiko jaraknya jadi lebih jauh. Tapi setidaknya bisa bernapas dengan lebih lega. 
Paksu segera menggandeng saya, supaya saya bisa mengikuti langkah kakinya yang panjang-panjang. Segera saja lantai dua pun menjadi penuh sesak. Jamaah dari Afrika rasanya tidak berjalan, mereka thawaf dengan setengah berlari, saking kencangnya bergerak. Sempat berpapasan juga dengan jamaah dari Inggris. Lucu ya, jadi ketahuan asal negaranya karena ada bordir lambang bendera mereka di jilbabnya. Mereka yang dari Eropa ini berjalan dengan anggun tidak terburu-buru.
Kami larut dalam dzikir dan doa. Entahlah, setiap berthawaf rasanya selalu terharu.. namun kali ini di tengah ramainya orang, konsentrasi juga dipasang supaya ga bertabrakan. Saya kadang kalau sudah oening saking umpel-umpelan begini jadi ga menghitung sudah berapa putaran. Alhamdulillah, beruntungnya punya suami yang selalu teliti. Saya sempat berhenti di putaran ke 6, tapi ditarik lagi sama Paksu... karena menurut beliau kurang satu lagi...hehehe kirain udahan. 
Lanjut ke area Sa'i.. Sama penuhnya. Bahkan jamaah dari Turki membentuk barisan pria di luar untuk melindungi jamaah wanitanya di sebelah dalam. Jamaah dari China pun sangat ulet mencari jalan. Barisan mereka tak bisa dipotong.
Alhamdulillaah selesai sa'i dan memotong beberapa helai rambut. Masih sempat sholat sunnah mutlak dan duduk menunggu teman serombongan. Lalu kami rehat sambil minum sebentar untuk mengisi tenaga.
Ya Allah, tak terasa satu demi satu prosesi Haji selesai. Menitik air mata saya, teringat betapa panjang proses yang kami lalui hingga sampai kesini, perjuangan mengumpulkan uang, menabung untuk melunasi, dan bersabar melewati setiap tahapan. Sedikit teringat si bayi dan anak-anak, sedang apa ya mereka saat ini.. airmata pun menetes. Saya segera minum dan mengunyah permen... biar ga terlalu teringat mereka. Air Susu saya sudah berhenti sejak kami berangkat menuju Armina. Mbak Yan bilang saya sekarang tambah kurus. Iya kah ? Saya ga memperhatikan.

Selesai Sa'i telah berkumpul beberapa orang dan kami menunggu cukup lama, padahal janjinya rombongan akan segera bergerak menuju Mina lagi untuk melempar. Acara tunggu menunggu ini betul-betul menguras tenaga. Kelelahan yang sudah terkumpul selama berhari-hari dan rasa lapar membuat emosi mulai tersulut. Inilah dia ujiannya datang lagi. Beberapa orang mulai ga yakin sama ketua regu.
"Tadi bilangnya janjian dimana sih, kenapa yang lain belum muncul?" 
"Pak pembimbing kemana ini, coba ditelpon!" Dan telponnya ga menyahut.
Setelah 1 jam menunggu, kami memutuskan berjalan keluar dari area sa'i menuju pelataran di bawahnya. Masjidil Haram ini begitu luas, sangat sulit kita bertemu seseorang secara ga sengaja kecuali sudah janjian atau sudah kehendak Allah.
Di pelataran belakang yang luas ini mata jadi silau karena suhunya yang panas luarbiasa, waktu itu sekitar jam 10an, ada timbunan geragal di kanan kiri, gersang dan kotor. Berantakan banget lah...
Ada dua-tiga orang yang mulai meninggikan suara, masing-masing melontarkan ide dan bantahan tentang kita harus kemana setelah ini tanpa Pak Pembimbing. Saya sebenernya mulai kepancing emosi juga. Alhamdulillaaah banget, sebelum buka mulut saya sempat melirik ke Paksu. Beliau mengerti saya mau apa dan langsung menajamkan matanya sambil menggelengkan kepala. Tanda mau bilang, udah jangan ikut-ikut! Hehe, baiklah Pak.
Saya melihat di samping kami ada bangunan bertingkat yang kosong di sebelah kiri dan ada kolong luas dibawahnya. Saya ajak nenek kesitu untuk berteduh. Yang mau berdebat dan bertengkar monggo... hehe.. kami ntar ngikut hasilnya aja. Wong kita sama-sama buta lokasi, mbok ya dibawa dzikir. Bener kan Pak Bu ? Bertengkar itu ga menyelesaikan masalah. Yang ada malah jadi bete satu sama lain nantinya.
Lumayan nih bisa ngadem sebentar dan minum. Paksu dan beberapa orang mulai melipir mengikuti kami berteduh.
Cuaca panas memang cenderung bikin saya sakit kepala kalau sudah dehidrasi. Makanya harus banyak minum. Dan inilah salah satu kebodohan kami. Lupa membawa tempat minum besar. Padahal perjalanan masih jauh... heuhuhu...

Setelah menunggu lumayan lama dan berusaha telpan telpon, akhirnya Pak Pembimbing muncul dari kejauhan dengan membawa dua tentengan besar makanan. Saya lupa, seingat saya itu dari resto AlBaik. Rupanya tempat makan penuh diserbu orang, jadi beliau juga baru selesai membeli dan berputar-putar dulu mencari kami. 
Alhamdulillaah ketemu juga ya, kalau nggak entah sampai kapan nunggunya ini.

Karena cuaca panas, kami mau balik ke kemah Mina lagi, lalu baru melempar pada sore harinya. So, akhirnya rombongan pun bergerak lagi. Kali ini ga ada bis yang lewat, akhirnya kami sewa mobil angkutan penumpang yg cukup besar, diatasnya pun bisa dinaiki orang. Ibu-ibu disuruh naik duluan. Penumpang didalam pun sudah banyak lho.. jadi bapak-bapak sebagian naik ke atas mobil.
Rupanya setelah beberapa waktu, yang diatas jadi sangat kepanasan. Bapak-bapak berteriak minta sajadah buat menutupi kepala biar ga pusing. Ibu-ibu mengulurkan sajadah buat suami-suaminya. Saya pun ikutan mengulurkan sajadah ke atas buat suami saya.
"Pak, tolong ini sajadah juga buat suami saya ya."
Setelah beberapa lama, sajadahnya kembali ke saya.
"Gak ada Pak Freddy diatas Bu", kata orang dari atas mobil.
Lho, terus mana suami saya ya ? Kepala saya berputar-putar ke seluruh penjuru mobil, ga menemukan suami saya. Aduuh, jangan-jangan suamiku ketinggalan tadi. Saya mulai gelisah.
Satu persatu penumpang di absen. Di atas dipastikan ga ada. Di dalam mobil ga ada juga.. 
Bapak-bapak heboh sendiri, "Lho perasaan tadi Pak Freddy naik juga di sebelah saya kok."
Saya pasrah hanya bisa berdoa, semoga paksu bisa menyusul juga. Akhirnya teriakan bapak-bapak yang heboh membicarakan suamiku tertinggal itu terdengar oleh orang yang gelantungan di pintu mobil.
"Ada apa nyari saya ? Saya disini Pak !", orang-orang jadi tertawa.
Ternyata suamiku berdiri gelantungan di pinggir pintu. Suara diluar sangat berisik jadi beliau ga begitu dengar pembicaraan yang berlangsung didalam. Hehehe... 

Mobil berhenti di area yang macet ga bisa jalan lagi. Pak Pembimbing memutuskan untuk turun dan berjalan kaki. Padahal masih jauh banget ini. Di situ ada Mal besar Bin Dawood. Pak Pembimbing masuk ke dalam Mal. Duuuh senengnya, adem banget. Lumayan lah untuk mengusir rasa panas di luar.
Wah, kami sudah seneng, mikirnya asyiiik.... bakalan dibelikan minuman dingin atau es krim nih disini.
Ternyata Pak Pembimbing cuma mau cari jalan pintas. Setelah berbelok-belok di dalam mal, akhirnya kami keluar lagi lewat pintu keluar sebelah belakang.
Ealaaaah, kirain bakal duduk di Pujasera atau apa.
Ngenes sendiri ngelihat deretan penjual minuman.
Sesampai diluar mal, Pak pembimbing menawarkan untuk berteduh sambil makan dulu. Kan sedari pagi kami belum makan.
Tapi mau duduk berteduh dimana... jalanan penuuh sama orang dan aneka jualan.
Tapi beberapa orang sudah tak sanggup berjalan karena lemes kelaparan.
Akhirnya kami duduk menggelar alas plastik yang memang dibawa dari Mina dan duduk... dimana hayo.... di samping tumpukan sampah. Ada aneka sampah dan lalat beterbangan.
Ini satu-satunya tempat yang rada kosong dan cukup teduh. 
Ini bener-bener deh satu hal yang ga mungkin kita lakukan kalau di Jakarta. Boro-boro deh !!
Tapi disini, sudah ga mikir lagi saking lapar dan lemasnya. Ini aja sudah alhamdulillaaah banget. Apa yang mau disombongkan coba. Kalau sudah kepepet, kudu bisa .. Tangan hanya dibersihkan pakai tissue basah dan sedikit air minum. Lalu kami makan dengan lahap. Sambil ketawa ketiwi karena tadinya tuh ya langsung duduk aja, setelah makanan mau habis baru nyadar...eh samping kita ini sampah lho ternyata.... hahaha..

Di sekitar situ ada para mantan tki yang berjualan makanan. Ada bakso, ada telor rebus, mie instan. Pak pembimbing kasihan melihat mereka, akhirnya telor rebusnya diborong semua ada sekiloan telur kayaknya.
Kita mikirnya, duuh buat apa nih telor rebus segambreng.. Kan kita masih pada kenyang.. Tapi yah kali aja nanti ada yang mau buat makan malam.

Perjalanan dilanjutkan.
Karena memang ga ada kendaraan, jadinya kami jalan kaki deh.
Tadinya kan niatnya mau balik ke tenda di Mina. Tapi ini jalannya mengarah ke Jamarat. Akhirnya diputuskan langsung ke jamarat saja karena sudah lebih dekat ketimbang ke Mina, nanti dari sini baru balik ke Mina. Padahal ya masih 4 km lagi. Yuhuu.. saya ikhlas berjalan jauh begini. Tapi kesian juga kalau melihat jamaah yang sudah berumur. Jalannya mulai terseok-seok. Jalanan aspalnya pun panas banget. Mantul-mantul silau dan suhunya yah ga usah ditanya lagi deh.. Semoga Allah menguatkan.
Saya dan suami juga beberapa orang ga bawa kerikil tertinggal di Mina. Kami melipir ke tanah di sekitar jalanan situ untuk mencari batu kerikil. 
Walaupun sudah dirundingkan kita akan melempar jumrah lagi, tetep ada yang ga mendengarkan. Ga usah heran, rasa panas dan kelelahan kadang bikin kita jadi ga konsen.
Apalagi saat berjalan, kecepatan jalan tiap orang kan ga sama. Ada pasangan muda yang langkahnya panjang-panjang. Jadinya jalannya udah jauh di depan. Ngeduluin nih yee...hahaha.
Tapi saat akan berbelok ke jamarat, lha kok mereka malah ke arah Mina. Duh dipanggil-panggil, lalu diteriakin ga dengar juga. Akhirnya ada satu orang bapak-bapak yang lari untuk menyusul mereka dan balik lagi ke rombongan kita. Luarbiasa ! 
Moga-moga mereka bawa kerikil yah, kalau ternyata ga bawa dan ga ikutan nyari pas tadi di jalan... ya ga tahu lagi deh. 

Kami memasuki gedung jamarat ini siang hari jam 2 an. Aslinya kalau siang begini, jatahnya jamaah dari Eropa, Arab dan Afrika untuk melempar. Karena fisik mereka lebih besar jadi dianggap lebih tahan cuaca. Kalau kita yang Asia biasanya waktu melempar setelah Ashar hingga malam.
Tapiii, saat siang hari adalah waktu afdhol melempar. Seperti saat dulu Nabiyullah Ibrahim melakukannya.
Jadinya area menuju gedung jamarat penuuh sesak, aneka ras bangsa di dunia ada disini. Ya Allah, entahlah gimana caranya biar bisa jalan dan masuk ke dalam. Beberapa jamaah yang sepuh sudah ga sanggup berjalan lagi. Akhirnya melemparnya diwakilkan. Mereka diminta beristirahat di dekat area toilet.
Dzikir, dzikir, dzikir... jangan kebanyakan mikir. Bismillah semoga lancar.
Alhamdulillah, kami jalannya melipir dan pelan-pelan. Pakai strategi yang kemarin. Ga boleh buru-buru dan jangan menyikut dan menyakiti orang lain. Jadinya bisa dapat tempat yang lapang buat melempar walaupun kondisinya penuh sesak.
Selesai melempar, rasanyaa legaaa banget. Saya rasanya seperti melempar semua setan yang ada di diri saya biar hancur terhempas ke dinding jamarat. Semoga begitu ya..

Selesai melontar, kami pun berjalan berjalan kembali menuju Mina. Sambil beristirahat sejenak, kami makan telur rebus yang tadi dibeli. Langsung habis deh itu telur, ternyata ga sampai acara makan malam ya umurnya..
Kami jalannya santai dan pelan saja, karena sudah lelah banget. Dan suhu siang hari ini luarbiasa panasnya. Air kemasan sudah habis, dan bodohnya botolnya tadi dibuang supaya ga bikin berat... Haduuuh ! Jadi susah deh mau minta air dari yang lain ! Tempat minum gratis kok ga muncul-muncul. Padahal biasanya banyak kelihatan. Sempat ketemu air pancuran minum tapi ternyata rusak. Kerongkongan rasanya keriing banget. Akhirnya saking hausnya nanya ke sesama jamaah, ada yang punya air lagi kah ? Mereka pun airnya tinggal dikit-dikit.. paling tinggal sepertiga botol. Ada yang sudah hampir habis. Ga tega juga mintanya. Dikasih air dari Mbak Yul, saya cuma minta seteguk sekedar untuk meringankan dahaga. Suami pun minta seteguk. Kasihan nenek kalau sampai kehabisan air minum.

Itu air rasanya cuma lewat saja. Baru jalan 5 meter udah haus lagi. Ya Allah, hausnya bukan main. Air liur kering, lidah pun sampai terjulur keluar. Ya Allah, mohon ampun Ya Allah.. Haus banget hamba ini Ya Allah. Mohon pertemukan kami dengan air.. Ya Allah dimana airnya. Tolong kami Ya Rabb.
Wajah mulai pucat dan langkah pun jadi berat. Begini rupanya kalau orang mau pingsan yaa..
Disaat mata mulai berkunang-kunang, di kejauhan tampak orang yang berkerumun di tempat air pancuran minum. Kami pun bergegas minum sepuasnya. Bismillaaah. Pak pembimbing sempat meledek, kata beliau wah jangan-jangan itu air comberan yang disaring. Hmm, ga mempan Pak ! Saya dan suami ga peduli lagi saking hausnya, udah Bismillah aja deh.

Alhamdulillaaaaaah Ya Allah. Di saat kami sungguh kehausan, Engkau lah yang mendatangkan air, hingga hilang haus dahaga yang menyiksa ini. Di saat kami sudah hampir putus asa, disitulah pertolongan Allah datang. Kuncinya memang berdoa, berusaha untuk tetap berjalan dan pasrah.
Saya terus terang belum pernah ngerasa kehausan separah ini. Kalau di tanah air, kita kan selalu banyak minum, air pun ada dimana-mana dan cuacanya lembab. Kalau di Makkah ini memang subhanallah. Angin tak ada, kalaupun ada udaranya keriing banget. Ditambah suhu yang panas luar biasa, sungguh hebat betul manusia yang tinggal di jazirah Arab ini. Allah Maha Adil, mereka yang badannya besar-besar memang ditaruh Allah di daerah yang alamnya keras.

Semakin mendekati tenda Mina, kaki rasanya semakin pegal.
Di saat langkah mulai lemas dan lesu karena kelelahan, takbir dan talbiyah yang diteriakkan para jamaah dari negara lain menyemangati kami. Berganti-ganti. Kadang dari jamaah Malaysia yang tahu-tahu sudah disamping kami dan menyapa, "Apa kabar?". Lalu mengajak berjalan lebih cepat.
"Ayo Pakcik ! Ayo Makcik! "
"Ya ya ya.. silakan duluan lah kalian.."
Ada juga jemaah Turki yang sepertinya selalu yang paling semangat meneriakkan talbiyah atau sholawat.
Ya Allah, masyaa Allah ! 
Luarbiasa persaudaraan dalam Islam. Terharu rasanya mendapat sekadar senyum ramah dari mereka. Hal sepele yang jadi penuh arti dan bisa membangkitkan energi kita ternyata.

Sampai di Mina, kami langsung menghambur ke sajadah untuk bersujud syukur. Lalu bersiap sholat dzhuhur dan ashar yang dijamak.
Selesai makan, rasanya cuma kepingin tidur dan meluruskan kaki.
Alhamdulillah Ya Allah, karena Engkau sajalah kami bisa menyelesaikan rangkaian ibadah hari ini.
Kalau dihitung sejak jam 2 pagi tadi, kami sudah berjalan 20 km lebih hari ini. Masya Allah...ternyata kami bisa dan Alhamdulillah kami semua selamat.
Rasanya tak henti mengucap syukur. Alhamdulillah Ya Rabb..
Aroma balsem dan minyak urut pun bertebaran di udara.

Ini adalah hari yang sungguh luarbiasa dan tak terlupakan seumur hidup saya.. Yang selalu mengingatkan saya, bahwa pertolongan Allah itu dekat.

Makan di samping tumpukan sampah. Ga bakalan mau kalau di tanah air. Tapi anehnya di sebelahnya ada orang lagi santai sambil leyeh-leyeh.. Cuma di jalanan menuju jamarat banyak ditemukan keanehan macam ini. Hehe..

Wajah - wajah kelelahan sekaligus terharu... akhirnya berhasil juga kami menyelesaikan prosesi lempar jumrah yang kedua.

Rabu, Januari 31, 2018

MLM ORIFLAME, HALAL KAH ?

Ini bahasannya rada berat yah, tapi sesekali kita seriusan boleh juga kan...

Halal dan Haram suatu bisnis yang kita kerjakan tentu penting untuk memastikan rezeki yang kita terima menjadi berkah dan bukannya menjerumuskan keluarga ke api neraka. Pada dasarnya setiap benda adalah halal sampai ada suatu hukum yang menyatakan bahwa ia benar haram.
Sebagai umat Islam setiap masalah patokannya tentu pada Al Quran dan Hadist. Untungnya saat ini sudah ada hasil pemikiran para ulama yang menjelaskan apa saja kriteria Halal untuk bisnis MLM.

Karena saya sekaligus ingin membedah bisnis yang saya ikuti, maka Berikut kriteria MLM yang sesuai ketentuan Islam didasarkan dari Fatwa MUI dan dari sisi Oriflame.

Fatwa DSN MUI terkait MLM no 75/DSN MUI/VII/2009 Tentang  Penjualan Langsung Berjenjang Syariah /PLBS.  Kriteria MLM Syariah ada 12 :


1.     Adanya obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa. Oriflame ini produknya jelas banget. Yaitu menjual produk Kosmetika yang bisa dipakai manusia dari ujung rambut sampai ujung kaki.
2.    Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram. Produk yang diperdagangkan oleh Oriflame adalah produk yang bermanfaat. Misalnya produk perawatan kulit, ada sabun wajah, penyegar, pelembab. Lalu ada juga sabun mandi, pelembab badan. Juga untuk perawatan dari dalam tubuh kita. Ada Nutrishake yang merupakan kombinasi protein, serat dan karbohidrat untuk menjaga kadar gula darah dalam tubuh dan memperbaiki metabolisme. Tahun 2013 ini Sertifikasi Halal MUI untuk Nutrishake telah keluar.
3.    Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat.

1.     Larangan gharar.   gharar adalah setiap transaksi yang tidak jelas, atau bahkan mengandung unsur penipuan secara sengaja. Ketidak jelasan mungkin terjadi pada harganya, jenis atau spesifikasi barang yang diperjual belikan, ukuran atau takarannya, ketidak jelasan hasilnya, ketidak jelasan atau ketidak pastian serah terima barang yg diperjual belikan, atau tidak jelas atas efek apa yang akan muncul dari transaksi tersebut, dan ketidak jelasan ini mengandung unsur khathar (bahaya/resiko) bagi sebagian atau seluruh pihak. Yakni ketidak jelasan atau penipuan mengacu pada hadits point d yaitu Rasul melarang jual beli dengan system melempar batu dan jual beli gharar.

Biaya keanggotaan hanya Rp.49.900,- untuk menjadi konsultan sah yang memiliki kartu member. Biaya sebesar itu selain mendapat kartu member juga mendapat barang cetak dalam kualitas yang baik seperti : 2 (dua) buah catalog, buku Consultant Manual, Daftar Harga, dan Skin Care Guide dan map Starter kit. 

Sistem penjualan adalah : member menunjukkan catalog pada konsumen, lalu member membeli barang langsung dari Oriflame dengan harga member lalu memberikan barang pesanan pada pelanggan sesuai harga katalog. Untuk ini, member mendapatkan 30 % keuntungan dari harga beli. 

2.    Larangan maysir yang mengacu kepada QS 5: Maysir atau perjudian, adalah segala bentuk transaksi yang mengandung unsur untung-untungan, taruhan, yang ketika akad itu terjadi      hasil yang akan diperolehnya belum jelas, dalam transaksi tersebut akan ada sebagian pihak yang diuntungkan dan sebagian pihak yang dirugikan.

Tidak ada unsur taruhan disini. Seseorang yang membeli produk Oriflame memang karena ingin mendapatkan manfaat produk itu. Atau seseorang yang ingin berjualan produk Oriflame karena ingin mendapatkan keuntungan 30 %. 

3.    Larangan unsur riba mengacu QS 2:275. Secara umum Riba dapat kita kelompokkan menjadi dua macam, yaitu Riba Nasi'ah dan Riba Fadl.

Dalam industri MLM kemungkinan adanya unsur riba dan maysir terletak pada system pembagian bonus atau marketing plan, bukan terletak pada produknya, hal ini tidak mudah bagi masyarakat untuk mengetahui apakah marketing plan MLM tersebut mengandung unsur riba dan maysir atau tidak. Sedangkan unsur gharar (ketidak jelasan atau penipuan) bisa terdapat dalam produk maupun marketing plann.
Oriflame mempunyai system penghitungan bonus yang adil yang menjadi dasar sekaligus memberi batas maksimum seorang upline dapat memperoleh bonus dari  downlinenya. Yaitu sistem selisih level.

Setiap produk memiliki nilai bonus point (BP) masing-masing, dan setiap poin yang dikumpulkan akan berakumulasi dalam total poin (BP) dalam grup yang akan menentukan besaran level komisi.
Bila seorang downline bekerja lebih keras sehingga memiliki level komisi yang hampir sama dengan upline, maka upline tersebut akan mendapat selisih level yang kecil sebagai faktor pengali atas semua bonus point yang dikumpulkan grup. Bila levelnya sama, sehingga selisih levelnya nol, maka upline jelas tidak bisa memperoleh bonus dari downline tsb.

4.    Larangan dzalim mengacu pada QS 2:279. Penjelasan sama dengan diatas.
5.    Larangan unsur dzarar (yang membahayakan) mengacu pada hadits yaitu sabda rasul : Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Sudah jelas, produk yang dijual adalah yang bermanfaat dan bukan yang membahayakan manusia. Sistem penjualan dan pembagian bonus adalah sistem yang adil dan transparan dan disediakan training cara menghitung pendapatan sehingga setiap member bisa mengetahui bagaimana penghasilannya dihitung.
6.    Larangan maksiat mengacu kepada kaidah umum dalam Islam yg sudah sangat jelas.

4.    Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh. Harga produk Oriflame cukup wajar mengingat ini produk impor dengan kualitas yang baik, tapi masih sebanding bahkan lebih murah dari sesama produk impor lainnya.
5.    Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
Lihat bahasan tentang pemberian bonus di no.3. Semua pemberian bonus didasarkan perhitungan poin dan selisih level.

6.    Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan;

Di Oriflame, target justru lebih banyak ditentukan oleh masing-masing member bukan oleh perusahaan. Tidak ada paksaan harus ke level berapa, namun perusahaan menyediakan pelatihan supaya target bisa tercapai.

7.    Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa;
Di Oriflame tanpa ada penjualan produk berarti tidak ada poin sebagai dasar perhitungan bonus. Tidak melakukan pembinaan berarti jaringan tidak berkembang dengan seimbang, sehingga bila ada jaringan yang besar dengan sendirinya dan level upline sama, maka upline bisa tidak mendapat bonus.
Di Oriflame setiap orang hanya boleh terdaftar sebagai member aktif sekali saja. Tidak ada istilah nambah/beli kavling yang merupakan ciri money game. Tidak ada Bonus rekrut, Bonus pasangan, Bonus karena jaringan bertambah besar. Tidak ada.
Semua penghasilan berasal dari penjualan. Kalau bergabung tapi tidak berjualan dan tidak mengelola jaringan ya pasti tidak akan mendapat bonus. 

8.    Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’ (janji / angan yang berlebihan).  
Tidak ada iming-iming berlebihan. Di bisnis ini dijelaskan sejak awal, bonus besar bisa didapatkan bila mau belajar dan bekerja keras. Hadiah dan reward diberikan bagi yang mencapai kualifikasi dan semua ada perhitungannya detail dengan jelas bahkan ada training perhitungan bonus.

9.    Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;  
Di Oriflame sangat mungkin bahkan sudah seringkali terjadi seorang downline bisa memiliki penghasilan lebih besar daripada upline nya.

10.  Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan lain-lain;
Oriflame melakukan perekrutan sewajarnya dengan presentasi data dan testimoni dari mereka yang sudah sukses di bisnis ini atau keluarga mereka. Diminta naik ke atas panggung dan menceritakan tips sukses mereka yang telah berprestasi.

11.   Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada anggota yang direkrutnya tersebut;
Bila ingin serius berbisnis di Oriflame dan mendapatkan penghasilan, maka harus serius juga melakukan pembinaan. Bonus besar tidak akan didapatkan oleh mereka yang memilih sebagai pengguna saja atau penjual produk saja walaupun pilihan itu dibolehkan.

12.  Tidak melakukan kegiatan money game.
Money game biasanya dilakukan MLM yang mendasari pemasukannya dari merekrut. Di MLM seperti ini proses produksi kadang tidak ada, karena fokusnya bukan menjual barang apalagi membina membernya. Oriflame perusahaan yang memiliki 5 pabrik besar. Berdiri sejak 1967 dengan tujuan awal memberi kesempatan para ibu rumah tangga memperoleh penghasilain dari rumah dengan menjadi distributor produk Oriflame. Sekarang sudah 3,6 juta orang bergabung sebagai konsultan Oriflame berada di 60 negara termasuk di Mesir dan Arab Saudi.

Kesimpulan
Dari uraian di atas, Oriflame tidak bertentangan dengan kriteria MLM Halal yang dijelaskan oleh MUI ya. Sebagian masyarakat masih rancu membedakan MLM dengan Money Game/Sistem Piramida dan menganggap semua MLM adalah Money Game Sistem Piramida. Padahal jelas jauh berbeda.
MLM ORIFLAME adalah sistem perdagangan langung, dimana kita sebagai member membeli barang langsung ke pabrik yang diwakili oleh kantornya di Indonesia, lalu berjual beli dengan komisi yang telah ditetapkan. Semoga ini bisa membantu para muslimah yang ingin berbisnis MLM dari rumah memanfaatkan gadget dan koneksi internet supaya lebih teliti sebelum mengambil peluang usaha.

TriAyu Srikandi

Siap bergabung bersama kami? Silakan klik http://www.daftardbcn.com/?id=anandabarca




Kriteria MLM Syariah dikutip dari bahasan Bp. Sofwan Jauhari, Dosen STIU Dirosat Islamiyah - Al Hikmah

Rabu, November 22, 2017

Kutinggalkan Bayiku Pergi Haji 8 - Mina dengan Sejuta Rasa

10 Dzulhijjah - Hari ke Mina

Selesai dari Arafah, rombongan mulai bersiap untuk ke Muzdalifah dan Mina.
Antrian jamaah haji yang akan menaiki bis tak kunjung selesai.
Saat mengantri begini memang cenderung menguras emosi.
Pak pembimbing mengajak kami untuk bersabar dan naik bis terakhir saja.
Jamaah dipersilakan tidur dan beristirahat untuk menghemat tenaga.
Yah... ini agak sulit. Mata tidak mengantuk, cuaca panas ... bagaimana bisa tidur ?
Tapi, ya sudahlah... duduk-duduk lagi sajalah.
Beberapa rombongan ada yang tidak sabaran, merasa jam afdol keberangkatan ke Muzdalifah sudah terlewati.. jadi berusaha segera menaiki bis yang tiba. Lagi-lagi kami diminta bersabar.
Godaannya adalah pengeeeen nanya ke pak pembimbing, lalu kita kapan naik bisnya pak ?
Untuk yang terbiasa hidupnya on schedule, harus bisa menahan diri banget yah....

Toilet kosong, tapi tidak ada yang merasa ingin ke toilet. Sampai yang biasa ngantri toilet digodain. "Ayooo...siapa yang mau ke toilet tuh mumpung sepiii !!"
Ga ada yang mau. Karena kondisinya banyak sampah dan gelap.
Ya, aktivitas di Arafah sudah mulai ditinggalkan. Mendadak disini seperti area tak bertuan. Kosong, gelap dan suara angin menderu2 menghantarkan debu dan panas.

Akhirnya bis yang bisa kami naiki datang juga. Menjelang jam 2 malam baru kami sampai di Muzdalifah. Memunguti batu-batu untuk lempar jumrah sambil diterangi lampu senter.
Area ini seperti lapangan perkemahan raksasa.
Dimana-mana orang berpakaian ihram lalu lalang. Dari kejauhan tampak menara jam dari Hotel Zamzam Tower menunjukkan jam. Juga menara Masjidil Haram.
Kami mengira-ngira berapa ya jarak ke sana. Lumayan bikin tebak-tebakan pengusir lelah.

Toilet disini banyak dan bersih. Lampunya terang dan tidak antri.
Saya menyempatkan mandi disini. Akhirnya bisa menyegarkan diri juga setelah mandinya jam 3 tadi pagi di Arafah.
Ada penjual popmie juga lho. Tapi rasanya aneh seperti kari India yang terlalu banyak jintan dan kayumanis. Gapapa lah, yang penting bisa buat ganjal perut. Dengan sesama teman satu rombongan mulai berbagi bekal yang kami bawa dari hotel. Ada buah, roti, biskuit, teh panas dari termos.. mbak Yul sempat bikin teh di Arafah rupanya.

Kami bertemu juga dengan jamaah haji asal negara2 Arab. Mereka bikin kemah di sini. Sepertinya sekeluarga besar. Karena ada 2 troli bayi di luar kemah.
Juga sempat berfoto dengan jamaah dari China. Sayang mereka tidak bisa berbahasa Inggeris jadi ga bisa ngobrol. Cuma hahahihi doang. Kami sholat subuh berjamaah disini juga.
Lalu sambil menunggu bis yang akan membawa ke Mina, rombongan mulai berfoto-foto.

Sampai di perkemahan Mina jam 12 siang. Lucu banget. Rombongan kami selalu memilih untuk naik bis terakhir, supaya tidak berebutan dengan jamaah lain. Tapi alhamdulillah, Allah Maha Pengasih.. kami dapat ruangan yang besar di kemah Mina. Jadi bisa mengatur tempat dengan leluasa untuk tidur dan menaruh tas di bagian pinggir. Di tengah ruangan bisa ditempatkan kompor portable dan panci kecil. Kemah kami AC nya cukup dingin. Ah, seneng banget akhirnya ketemu AC lagi. Lalu setelah sholat Dzhuhur dan makan siang, rombongan mulai bergerak menuju Jamarat untuk melempar.

Subhanallah !

Segera setelah keluar dari perkemahan Mina, kami masuk ke dalam lautan arus manusia yang buanyak banget. Mengalir terus. Hampir semuanya berpakaian ihram putih sambil bertalbiyah. Rasanya bulu kuduk meremang.
Arus manusia keluar dari mana saja bertemu di jalanan utama menuju tempat jamarat. Dzikir selalu membasahi bibir.
Sepanjang mata memandang... hanya mengalir lautan manusia berihram putih. Berbagai bendera negara dibawa sebagai penunjuk bagi jamaahnya, tapi tak urung jutaan manusia yang bertemu jadi arus berjalan ini membuat hati bergetar.

Memasuki terowongan Mina tempat timbulnya kecelakaan yang menyebabkan korban tewas ratusan orang terinjak-injak.. Talbiyah disuarakan dengan keras. Jemaah dari Arab atau India yang menyuarakan pertama dengan keras lalu diikuti oleh banyak rombongan jamaah lain di belakangnya. Hingga suara jadi seragam di saat itu.
Ini suasana yang bikin merinding. Seluruh saraf rasanya ikut bertalbiyah. Tak terasa airmata menitik membayangkan banyak orang wafat terinjak-injak. Di sekeliling saya aneka manusia dengan warna kulit yang beragam. Ada yang tua tertatih-tatih. Ada yang masih muda berjalan dengan gagah, membawa bendera. Ada yang bertugas meneriakkan talbiyah dengan toa. Ada suami isteri yang bergandengan tangan, ada yang berjauhan. Ada yang pakai kursi roda, ada juga yang dibantu tongkat. Rasanya saya bisa mencium aroma jalanan dan suasana syahdu saat itu. Semua menuju tempat yang sama.
Ya Allah biarlah pasir, batu, tembok terowongan dan jalanan ini dan semua yang kami lalui bersaksi kelak di akhirat bahwa kami pernah disini. Berusaha menunaikan perintahMu.

Labbaik Allahumma labbaik.
Labbaik alaa syarika laka labbaik
Innal hamda wal nikmata laka wal mulk
Laa syarikalah

Suara talbiyah bergema di dalam terowongan Mina.

Mendengarnya serasa panas dingin.

Sesampai di gedung jamarat yang luarbiasa besarnya, jumlah manusia semakin banyak. Jutaan orang dari berbagai ras mendekat untuk tujuan yang sama. Walaupun sudah bertingkat tiga, tetap saja masih berjubel dan tak ayal membuat perjalanan agak tersendat. Untungnya kami melontar saat sore hari, kalau siang hari tentu lelahnya dobel karena suhunya terik banget.

Saat mendekat ke jamarat pertama, begitu melihat lubang tempat kita harus melontar, seluruh orang yang berada di depan saya langsung menuju ke titik terdekat.
Saya pun hampir terbawa orang-orang itu. Dan betul saja, disana orang berdesak-desakan dan mulai dorong-dorongan. Batu- batu bahkan dilempar dari jarak jauh. Ini udah main fisik banget.
Hingga terdengar suara suami, "Kandi kesini !", memanggil saya.
Baru saya tersadar dan bergerak menjauh, eh iya ya.., kenapa saya kok seperti terhipnotis begini.

Rasa lelah setelah seharian di Arafah, dan Muzdalifah ditambah berjalan 3 km dari kemah Mina menuju jamarat membuat sebagian orang bernafsu untuk segera menyelesaikan sesi lempar jumrah. Rasanya seperti kesedot oleh arus orang banyak. Ga bisa mengelak, kecuali kitanya memperhatikan lingkungan sekitar. Tidak terpaku pada gerakan arus gelombang orang yang banyak.
Kondisi saya waktu itu betul-betul lelah, tapi kan masih harus berjalan. Tak terbayang untuk jamaah yang sepuh, prosesi lempar jumrah ini cukup berat bagi mereka pastinya.

Ternyata setelah berjalan melipir agak memutar lubang tempat jumrah, masih banyak tempat lowong. Kami bisa melempar dengan leluasa dan santai. Kuncinya hanya sabar. Memang benar kata pak pembimbing, perbanyak sabar dan jangan menyakiti orang lain. Kalau berdesak-desakan kan jadinya senggol sana sini, nyikut sana sini. Sengaja atau tidak kita pasti menyakiti orang lain.
Setelah selesai semua, kami melipir hendak istirahat sebentar, tapi oleh askar disuruh maju terus tidak boleh berhenti di dalam gedung. Oh ada akal, saya duduk sebentar hendak minum. Jadi bisa sebentar saja mengistirahatkan kaki.
Lalu diusir lagi deh.
Jadi kami baru bisa istirahat setelah diluar gedung jamarat.
Minum lagi sebentar, sambil duduk menunggu teman-teman satu rombongan lainnya berkumpul.
Setelah lengkap, kami berfoto sejenak.
Tak disangka, ada si Misbah? Bagian urusan layanan jamaah haji yang selama ini membantu kami di Mekkah yang kami suruh membuka jendela kamar ...eh bertemu lagi di jamarat dengan pakaian ihramnya. Rupanya dia sekalian beribadah haji.
Setelah menjelang senja, kami berjalan kembali ke kemah.
Alhamdulillaah, selesai satu prosesi dan kami semua selamat tidak kurang satu apapun. Bisa masuk ke kemah lagi setelah berjalan jauh itu rasanyaaaa seneng banget nget...
Akhirnya bisa mandi dan berganti ke pakaian biasa lalu menyelonjorkan kaki. Aneka balsem dan minyak urut bertebaran.. Selesai sudah baju ihramnya. Bapak-bapak menggunduli rambut. Untungnya paksu masih menyisakan sedikit rambut jadi ga plontos amat.

Besok, masih lanjut melempar jumrah untuk yang kedua.
Sekarang, selepas makan malam mau istirahat dulu.
Rasanya badan udah remuk.. hehe.

Selasa, Agustus 08, 2017

Kutinggalkan Bayiku Pergi Haji 7 - Armina Yang Menghujam Kalbu - ARAFAH DAY 2

Hari ini 9 Dzulhijjah

Harinya Wukuf di Arafah.

Pagi itu suasana tenang, udara cukup dingin dan matahari belum muncul tapi sudah terasa panasnya. Aktivitas sudah ramai sejak jam 3 pagi. Mulai banyak yang antri ke toilet untuk mandi dan wudhu.
Saya mengajak pak suami untuk mencari teh hangat. Kebiasaan saya selalu minum teh hangat di pagi hari.
Rupanya di meja makan belum ada air ... jadi kami berjalan-jalan mengelilingi area sekitar maktab. Sampai di dapur, terlihat kesibukan petugas katering sedang masak dan menanak nasi untuk sarapan.
Mereka sudah membuat teh, dan jamaah haji di sekitar dapur boleh mengambil teh yang disediakan. Alhamdulillah.
Sempat kami foto-foto sejenak berlatar bukit yang ada di Arafah.
Lalu kembali ke kemah untuk bersiap-siap menghadapi wukuf.

Selesai makan, mandi dan sholat Dhuha, jamaah haji lebih banyak membaca Al Quran atau berdzikir.
Saat menjelang wukuf, suasana makin syahdu.
Dzikir dan doa yang dilantunkan dan ceramah dari pemimpin haji di maktab sangat menyentuh hati.
Diingatkan tentang siapa kita dan kemana kita kelak akan pulang. Diingatkan tentang syukur atas segala nikmat apa saja yang Allah berikan pada kita. Baik kita suka atau tidak, semua itu baik untuk kita... Semua itu kasih sayang Allah.
Kita sampai duduk di sini di Arafah pun karena kasih sayang Allah. Berapa banyak orang ingin berhaji, berapa banyak uang yang telah dikeluarkan, kalau Allah tidak menghendaki, maka tidak akan sampai.
Diingatkan tentang orangtua dan kasih sayang mereka, dan banyak orang yang juga terpisah dengan orangtua atau tak pernah bertemu dengan ayah ibunya.
Juga tentang pasangan kita... Dari milyaran manusia, dipasangkan Allah dia yang jadi suami/isteri kita. Sementara banyak orang masih mencari mana pasangan hidupnya.
Tentang anak dan masih banyak keluarga yang menunggu kapan Allah memberi mereka keturunan.
Sungguh sudah banyaak sekali nikmat yang Allah beri, namun sedikit sekali kita bersyukur.

Saya meleleh..
Airmata terus turun membasahi jilbab dan baju saya.
Teringat semua pembangkangan saya pada Allah.
Rasa marah, kesal karena diberi ujian hidup yang saya benci, kadang saya merasa Allah jahat,
memberi saya masalah yang tidak ada jalan keluarnya,
padahal sayanya yang tidak mau merendah dan datang pada Allah.
Disela-sela dzikir dan doa itu saya berdialog pada Allah.

Dan Allah menjawabnya langsung.
Masya Allah betapa indahnya perasaan khusyuk ini.. Allah begitu dekat dan kita sedang berbicara dengan Sang Pencipta kita. Pencipta langit dan bumi. Pencipta bintang-bintang dan seluruh isi galaksi.
Gemetar rasanya seluruh badan dan jiwa.
Saya bukan mendengar kata... tapi merasa ada pemahaman yang masuk langsung ke dalam hati kita dan keyakinan bahwa ini sungguh Allah.
Perasaan bahwa kita sedang berdialog langsung dengan Sang Pencipta itu memang sulit dituangkan dalam kata-kata. Karena kali ini hati yang bicara, bukan logika.
Di saat kita berbicara, di detik itu juga ada rasa sejuk dan damai yang tak bisa diungkapkan dengan bahasa. Rasa sejuknya bahkan mampu mengalahkan panas di sekitar. Seakan-akan sedang ada di gunung dengan suhu yang dingin.
Rasanya melebihi saat kita lama bepergian jauh lalu pulang ke rumah ingin dipeluk ibu atau suami dan anak tercinta dengan rasa yang teramat sangat rindu. Rasa bahwa akhirnya kita bertemu dengan Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ya Allah, siapa saya ini...
Dan saya paham, saya adalah ruh yang berasal dari Allah dan sewaktu-waktu akan kembali pulang.

Ya Allah, mengapa Engkau menciptakan saya ?
Lalu saya jadi paham.... Allah mau memberikan banyak kebaikan untuk saya di dunia ini, maka sembahlah Allah.

Ya Allah...terimakasih sudah membiarkan saya hadir di dunia ini pada waktu yang ini. Terbayang wajah semua orang yang saya cintai, anak, suami, ibu, bapak, abang adik semuaanya... Teman, keluarga, semua wajah berkelebat dengan cepat.

Ya Allah, aku sadar aku hanyalah ruh yang engkau masukkan ke tubuh ini...
Mohon bimbinglah aku Ya Rabb agar kembali padaMu dengan baik dan tenang. Janganlah aku menyakiti atau menyusahkan orang lain...
Tolonglah anak keturunanku supaya bisa mengenal dan dekat dengan Mu juga.
Bimbinglah anak-anakku dan keluarganya walaupun aku kelak sudah tiada. Kasihanilah mereka.. kasihanilah kami.
Ya Allah mohon mudahkan aku dan keluargaku di akhirat kelak. Tolong mudahkan saat hisab kami.
Kumpulkanlah kami di surga ya Rabb... ijinkan aku bertemu Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
Ijinkan aku memandang WajahMu ya Rabb.

Ya Allah ampuni aku...

Ya Allah... sayangilah aku... bimbinglah aku ya Rabb..
Aku sering bingung, aku sering ga tahu harus berbuat apa..tanpa Engkau aku pasti salah jalan ya Rabb..

Ya Allah....

Ya Allah...


Rasanya saya terus memanggil Allah, seakan Allah sedang duduk di hadapan saya dan menggenggam tangan saya.
Saya sadar waktu saya tidak banyak....begitu banyak yang ingin saya ucapkan, yang ingin saya mohonkan..
Sebentar lagi wukuf selesai, sebentar lagi Ashar, sebentar lagi harus ke Muzdalifah, sebentar lagi harus kembali ke Mekkah, sebentar lalu pulang ke Indonesia, sebentar lagi kematian datang ya Allah..

Pak pemimpin doa menyatakan kita memasuki akhir wukuf, rasanya airmata makin bercucuran.
Suami dan isteri dipersilakan saling bertemu dan bermaafan.
Suasana mendadak ribut, karena ibu-ibu di sebelah saya menangis sambil memanggil suaminya.

Saya lihat suami saya berjalan mendekati.
Kami saling mendekat dalam diam dan berpelukan sambil menangis.

Saya memandangnya dari sisi yang berbeda sekarang.
Inilah manusia yang dipilihkan Allah untuk jadi imam saya.
Kasihan, kelak dia harus berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya sebagai isteri dan bagaimana dia mendidik saya. Seorang pria apalagi dia adalah suami dan ayah akan berdiri dihisab lebih lama dari anggota keluarganya. Betapa beratnya jadi pria.
Semoga diringankan beban pertanyaan untukmu karenaku ya pa..
Semoga kita disatukan hingga ke jannah.. Aaaamiiin..

Wukuf di Arafah memang sungguh luarbiasa.
Berjumpa dalam artian sungguh berbicara dengan Allah itu rasanya.... tak terbayangkan.
Tempat yang suhunya panas membakar ini, padang pasir gersang dengan angin yang panas ... yang secara fisik jauh dari kata indah... tapi justru di sini saya mengenal arti bahagia yang sesungguhnya.
Kebahagiaan ternyata bukan karena kita berada di tempat indah, berpakaian yang cantik dan segala sematan duniawi yang selama ini jadi indikator rasa bahagia kita.
Kebahagiaan itu hadir saat diberikan rasa bahagia oleh Sang Pemilik Rasa.

Saya baru mengerti ungkapan hadist, bahwa kebahagiaan tertinggi di surga adalah saat bertemu dan bisa menatap wajah Allah secara langsung.
Baru dikasih setetes kenikmatan bersua Allah sebentar begini saja rasanya jiwa bungah dan hati membuncah bukan main.
Apalagi bila bisa menatap wajah Allah, Zat Maha Pengasih dan Penyayang secara langsung.

Di Arafah inilah saya berniat ingin membuat tulisan ini. Yah, pada kenyataannya tak semudah dugaan saya. Banyak kesibukan tak menentu yang membikin tulisan ini tak kunjung selesai. Niat saya hanya semoga semakin banyak yang berniat berhaji selagi muda. Percaya Allah akan mudahkan dan menjaga semua urusan dan keluarga yang ditinggalkan.
Semoga teman-teman semangat berikhtiar supaya segera masuk dalam daftar antrian haji ya.
Lamanya jangka waktu antrian jangan dipusingkan. Tambah saja kualitas keimanan kita, tambah lagi ilmu agama kita .... siapa tahu Allah panggil berhaji lebih cepat daripada antrian yang bertahun-tahun itu.
Karena waktu toh bukan punya kita.
Tugas kita lah menjalaninya dengan sebaik aktivitas yang kita bisa.

Insya Allah.

Bersambung ke : Mina dengan Sejuta Rasa

Jumat, Juni 09, 2017

Kutinggalkan Bayiku Pergi Haji 6 - Armina Yang Menghujam Kalbu - ARAFAH DAY 1

Armina adalah Arafah - Muzdalifah - Mina.

Tiga tempat yang jadi puncaknya ibadah Haji.
Yang paling dinanti seluruh jutaan manusia yang sedang berharap cemas agar ibadah Hajinya lancar dan tuntas dan beroleh Mabrur.
Karena ganjaran ibadah haji yang mabrur adalah surga** Aaamiin.

Catatan tentang Armina sebagian sudah saya tulis di Notes FB nanti saya sambung link nya kesini. Dengan catatan kalau inget yah...
Baiklah, saatnya menggali semua ingatan luarbiasa yang ingin saya bagikan.

============
Arafah Day 1

Pak Pembimbing bolak balik mengingatkan untuk kami yang baru pertama kali berhaji agar bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Karena ibadah haji yang pertama kali sifatnya wajib. Sedangkan untuk yang berikutnya jadi sunnah. ( Beberapa pendapat menyatakan tidak seharusnya menunaikan ibadah haji lebih dari sekali karena Nabi Muhammad SAW tidak mencontohkan. Namun saya tidak akan membahasnya.)

Jadi dari awal menjelang Armina, persiapan dilakukan betul-betul serius.
Untuk saya, bareng ibu-ibu lain mulai dari membeli sabun khusus yang tidak wangi, mencari roll on deodoran yang juga tidak wangi. Menyiapkan sandal dan kebutuhan lain yang belum dibawa dari tanah air. Macamnya bisa banyak banget. Dari peniti, kaus kaki, panty liner, pembalut, aneka tali, dlsb.
Yang bapak-bapak mulai dari membeli sabuk yang baru, obat-obatan dan juga peralatan mandi yang tidak wangi.
Karena saat berihram kita tidak boleh memakai wewangian kan, jadi ini pada ganti semua deh khusus buat Armina.

Yang ga ketinggalan, teman-teman juga menyiapkan aneka bekal makanan. Bahkan hingga satu tas besar khusus makanan kecil, aneka roti dan selai, buah, air minum, jus, susu, biskuit ... duuh kadang terpikir ini kok rada lebay... Tapi ya sudahlah, kalo bisa dibawa ya dibawa, kalau ga bisa dibawa bilang baik-baik pada teman, jangan sampai bertengkar.

Menjelang keberangkatan ke Armina, sudah diumumkan akan berangkat jam 2 siang, jadi jam 12 siang harus sudah selesai packing, sudah harus kelar makan siang, mandi dan berwudhu, sholat Dhuhur lalu kalau sudah siap semua, harus berniat ihram.
Menyiapkan mental untuk memasuki masa wukuf.

Saat diumumkan bis sudah datang, kami turun menuju lantai dasar hotel dengan wajah tegang. Walau bagaimana.... kisah-kisah tentang balasan Allah pada segala perbuatan kita semasa di tanah air berpengaruh juga ya. Tidak ada yang bersuara....semuanya diam dalam dzikir. Percaya atau tidak, udara rasanya berbeda. Suasananya panas, suhu udara di luar hotel terasa panas sekali, tapi ada semacam naungan ...entahlah apa namanya. Seperti cuaca mendung namun dalam suhu yang sangat panas. Sudahlah tak perlu melirik angka termometer... Setidaknya 40+++°C.
Pak pembimbing mewanti-wanti karena suhu akan panas sekali, jadi harus hemat tenaga. Jangan mengangkat barang berat. Dorong saja pakai kaki.
Jadi begitulah, kami mendorong tas kami dengan kaki dalam diam dan suhu yang membakar. Keringat bercucuran, tapi tak ada yang berani berkomentar.
Baju putih yang saya kenakan rasanya sudah mulai basah, jilbab pun mulai basah dan kepala mulai cenat cenut. Tidak ada cara lain mengusir rasa tidak nyaman ini selain banyak minum air putih dan berdzikir.

Bis tidak kunjung boleh dinaiki, jadi lobi hotel pun menjadi makin sesak oleh rombongan jamaah. Selain makin panas, untuk bernapas juga makin sesak karena udara pengap. Saya dan suami melipir ke pinggir pintu supaya dapat udara. Mulut ini rasanya sudah gatal mau bertanya kapan kita berangkat, kapan boleh naik ke bis, tapi berusaha menahan diri.. Selain harus hemat tenaga, sebaiknya juga hemat bicara yang ga perlu. Selain untuk menjaga emosi diri juga agar tidak memancing keributan dengan jamaah lain.

Akhirnya kami naik bis juga dan mulai berangkat setelah didoakan pemimpin mu'asassah (Pelayanan Jamaah Haji).
Lalu saat bis berangkat sambil memandangi lalulintas di jalanan saya terpikir, akankah saya kembali dengan utuh... kalau saya kembali apa yang akan terjadi di Arafah. Banyak yang terlintas di benak saya.. Apa ya yang akan Allah tunjukkan pada saya. Saya deg-degan .... terbayang dosa-dosa dan kenakalan yang pernah saya lakukan sejak kecil. Akankah saya bisa berdialog langsung dengan Allah, seperti apa ya rasanya ? Kalau seperti di sholat Tahajjud rasanya kok saya ga begitu khusyuk.
Parah banget saya ini.. Duh, ampuni aku ya Allah. Mohon kasihani aku. Sudah setua ini, masih lemah sangat kadar imanku. Tolong bimbing aku...

Bis kami tiba di Arafah menjelang Maghrib, dan langsung berhenti di pinggir kemah. Sepertinya bis kami rombongan terakhir. Karena kemah-kemah sudah penuh oleh rombongan jamaah lain yang duduk berdzikir. Kami meletakkan tas di tempat yang disediakan, dan ternyata tidak datar. Jadi kalau tiduran pasti akan bergulir ke kanan dengan sendirinya. Hehehe.. ya sudahlah dinikmati saja.
Antara pria dan wanita dibatasi oleh sekat ala kadarnya saja. Tapi rasanya tidak sempat untuk tolah toleh. Gimana ini ngatasi rasa panas, ini langsung menyita pikiran banget.
Semakin dipikirkan malah terasa semakin panas dan sesak.

Duuh... Panasnya ya Allah.
Kemah ini begitu panas. Bahkan berlapis-lapis alas karpet tidak bisa meredakan panas dari pasir yang langsung menyengat badan begitu kami duduki.

Apalagi yang mau disombongkan ? Baru panas di dunia ini saja aku sudah blingsatan ya Allah. Mau ngomel sama siapa ?
Rupanya panas ini ada gunanya... Malahan sangat banyak hikmahnya.
Salah satunya untuk meluruhkan lapis-lapis kesombongan yang selama ini kita tempelkan.
Peluh makin deras bercucuran.
Semoga panas ini menguapkan dosa-dosa ku semuanya.

Hari ini kegiatannya persiapan untuk wukuf di keesokan hari. Setelah Sholat maghrib bersama, ada dzikir dan setelah itu makan malam.
Sabar... semuanya harus mau sabar mengantri. Mau makan, mau ke toilet... semuanya mengantri.
Kalau makan bisa diatur lah ya... nanti saja pas rada sepi baru ambil makan.
Tapi kalau urusan ke toilet ini perlu strategi dan keikhlasan juga.
Bayangkan, pernah suatu saat perut sedang mules banget, tapi antrian di depan saya ada 8 orang. Semua toilet penuh, jadi ya mau gimana lagi.. Pokoknya langsung istighfar dan berdzikir dalam hati dan kali itu saya sungguh-sungguh berdoa semoga saya tidak mempermalukan diri sendiri. Duuh, alhamdulillah masih bisa tahan walaupun sudah keringat dingin bangetts.
Pernah juga udah ngantri lama, pas mau masuk eh disela ibu-ibu yang sudah super kebelet. Ya sudahlah... semoga saya dimudahkan di lain kesempatan.
Jangan berharap banyak tentang kebersihan, namanya juga bareng ribuan orang jamaah dari segala penjuru Indonesia.. tidak semuanya punya toilet di rumah.

Dan memangnya siapa saya mau minta diistimewakan terus... diantara ratusan dan ribuan orang ini saya bukan siapa-siapa.
Di antara milyaran makhluk ciptaan Allah dari galaksi, planet, hingga manusia, saya ini layaknya pecahan debu super duper kecil. Sudah untung lahir jadi manusia bukan jadi cacing.
Alhamdulillah..... Ingatan tentang hal ini ampuh membuat saya lebih tenang.

Namun saya jadi sadar Allah itu dekat, Ia menolong hambaNya yang berdoa sungguh-sungguh. Sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Sejauh ini semua baik-baik saja. Alhamdulillaah.
Menjelang malam, kami memilih untuk mulai tidur lebih cepat. Setelah Isya dan membaca Qur'an, saya pun bersiap tidur.

Lalu bagaimana saat Wukuf ?

Saya lanjut di tulisan berikutnya yaa... Arafah Day 2.

Kamis, Maret 10, 2016

Kang Rashied - Love Creates Everything - Sesi 1

Allah First series - Petunjuk
MT Khoirotunnissa - Musholla Al Ikhlas Puri Bintaro



Sharing dari kajian bareng Kang Rashied

Petunjuk itu mahal harganya.
Kalau kita sudah dapat petunjuk, gunakan dengan baik. Orang yg sok2an hanya pakai akal, ga pakai iman pasti akan tersesat.
Orang mencari alamat saja kalo ga pakai petunjuk pasti tersesat. Apalagi kalau hidup didunia, mau mencari Allah misalnya...ga pakai petunjuk, ya bakalan tersesat. Ketemunya nabi palsu, ketemu aliran sesat, ketemu liberalisme.
Saat tersesat, uang dan jabatan tidak kita butuhkan, tapi petunjuk itu. Masalahnya mau sampai sejauh mana kita sadar kalau sedang tersesat?

Saat usia 40an harusnya sudah mulai mantap menuju pada Allah. Sudah mulai bisa menerima kehidupan. Kalau usia segini masih dugem, masih jauh dari agama, masih belum bisa ikhlas, berarti selama ini hidupnya masih nyasar.

Ketika hati gelisah, uang itu tidak kita butuhkan.
Untuk ibu-ibu carilah suami, bersandar pada dadanya, kalau ga ada suami cari sajadah.
Setelah akal adalah agama sbg petunjuk tertinggi. Pakai agamanya.

Petunjuk itu ada 4, sesuai tingkatan umur :
1. Saat bayi dan balita : dengan tangisan memberitahu kebutuhan pada orang sekitarnya.
Kalau sudah dewasa, masih menggunakan tangisan untuk mendapat kemauannya, itu udah bukan masanya lagi.

2. Saat anak dan remaja : dengan panca indera, sudah mulai bisa memenuhi kebutuhannya. Bisa ambil minum sendiri, bisa ke kamar mandi sendiri.
Kalau kita lapar, lalu apa diam saja ? Pasti berpikir kan, gimana caranya...apa beli ke restoran ya..
Yang menimbulkan rasa lapar siapa ? Allah.
Yang memudahkan kita memenuhinya siapa ? Allah.
Jangan mengaku2 semua berkat pikiran sendiri. Ada Allah yang selalu memberi tahu.

3. Dengan akal : mulai menggunakan ilmu.
Namun semakin lama menambah ilmu, aneka kursus, pengajian ini itu, aneka taklim, S1, S2, S3 kenapa tidak membuat jadi makin tunduk pada Allah ? Ya beginilah kalau kita hanya pakai akal. Ilmunya tidak dipahamkan dengan hati.
Tidak bisa semua hal di cerna dengan logika. Harus pakai hati juga. Tidak semua hal selesai cukup dengan akal.

4. Agama.
Ini petunjuk tertinggi.
Semua orang sudah dititipi petunjuk ini. Bahkan yang jauh dari peradaban Islam sekalipun.
Tidak ada yg bisa menolak petunjuk Allah. Tapi kenapa banyak yang berpaling ? Karena saat petunjuk dtg, ditepisnya kuat-kuat.
Hati2, Allah kok disiasati, Allah mau dikibuli. Memangnya siapa yang lebih berkuasa ? Kalau begitu terus, Allah akan biarkan kamu makin menjauh... dibiarkan makin tersesat.
Contohnya : panggilan adzan. Itu petunjuk yg memanggil semua orang, bukan hanya muslim. Tapi yang menerimanya  hanya yg beriman.

Contoh kasus : anak yang nakal sekali, ga mau sekolah, maunya main game. Bapak ibunya pusing. Akal S2 dan S3 ga bisa menyelesaikan masalah ini.. malah makin ribut.
Bapaknya datang ke kiai, harus digimanain anak saya ini... Sama pak kiai malah disuruh orangtuanya utk bertobat.
Anak mah ga salah, yg salah akarnya..yaitu orangtuanya.. Setelah taubat, rutin baca sayyidul istighfar, alhamdulillaah sang anak berubah. Malah ingin mondok ke pesantren, dan sekarang malah sudah hafidz Quran. Terbukti, taubat dan istighfar itu menarik rezeki.
Rezeki itu bukan semata uang yaa..
Anak sholeh, rumah tangga sakinah, hati yang tenang itu semua rezeki dari Allah.

Diluar rumah muamalah, kita bisa pakai akal...ditambah hati.
Di dalam rumah muasyarah
Ga cukup pakai akal. Utk mengurus rumah tangga, pakai agama yg utama, lalu..pakai hatimu.

Anak, suami, semua itu titipan... Pemilik hati mereka adalah Allah. Minta atuh pada Allah, supaya hati mereka dijaga Allah.
Kalau ga bisa jaga titipan, nanti Allah akan punya cara utk mengambilnya.
Baik itu harta, anak, suami, tubuh kita, wajah, kecantikan semua itu titipan... kalau tidak dijaga, Allah pasti punya cara untuk mengambilnya. Bahkan niat ibu2 tadi datang ke taklim memangnya siapa yang tiupkan ke hati ibu ? Allah yang titipkan. Tinggal ibu yg kuatkan niat itu utk benar2 melangkah ke sini. Itu petunjuk.
Mari selalu mendekati Allah, supaya gampang menerima petunjuk. Jangan galau melulu.

Kamis, Januari 21, 2016

Ust. Erick Yusuf - Islamic Lifestyle

Kajian bersama Ust Erick Yusuf
Pimpinan SMP Kreatif IHAQI Boarding School Bandung.

Awal :
Sekarang banyak orang ikutan melakukan sesuatu tanpa ada barrier. Seperti ga dipikir dulu baik buruknya dari sisi tuntunan agama. Padahal semua ada unsur cari untungnya doang... Sebentar lagi mau Valentine, itu pasti bakalan rame semua orang ikutan merayakan.
Hati-hati ini konspirasi besar... ada industri besar utk menjual pornografi. Pelaku industrinya sudah mulai turun ke usia dibawah SD. Supaya anak2 akan sangat permisif saat dewasa nanti. Jadi saat anak2 besar, produk mereka akan mudah dijual. Ini semua saling berkaitan dari majalah, musik hingga film.

Ayo bunda kenali karakter anak2 kita..
Karena kebutuhan emosi tiap anak berbeda2.
Jaga supaya energi mereka stabil... anak2 sangat full energy. Biarkan mereka menyalurkan energinya pada hal yg positif.
Harus kreatif supaya mereka juga suka. Ortu juga hrs peka dg acara2 yg akan diikuti anak2.
Atau kalau sepertinya acaranya bakalan negatif, bikin siasat ajakin anaknya pergi kemana yg mereka harus ikut..nonton, makan bersama keluarga besar, mancing dst.. ini lebih positif drpd diceramahi ttg bahayanya, haramnya kegiatan Valentine misalnya.

Syar'i = jalan yg besar.
Islamic Lifestyle =Kehidupan yang Syar'i
Tatacara kita menjalankan kehidupan sesuai dg tuntunan agama.
Selama masih di jalannya, masih syar'i,.. gapapa.
Tapi hrs diingatkan, bila sdh di pinggir2 supaya tdk tergelincir masuk jurang.

Agama ini jalan penuntun kita supaya kehidupan kita selamat dan bermanfaat dunia akhirat.

Jadi kalau melihat aturan menjalankan kehidupan kita lihat dulu
1. Aturan pertama Al Quran
2. AsSunnah, bila Al quran masih bias menjelaskannya.
3. Ijma ulama
4. Qiyas

Apakah semua yg tdk dicontohkan Rasulullah berarti mudharat ? Berarti bid'ah ?

Nah, belum tentu... karena ada Ijma dan Qiyas ulama..
Contoh dzikir di malam tahun baru... ini sebetulnya sebagai alternatif kegiatan supaya orang yg punya kelebihan energi, bisa cari kegiatan positif.... kontra dari acara2 yg maksiat.
Sekarang malah bisa jd solusi kan..
Contoh lain, tentang cara makan... cara berpakaian. Kan ga semua sama.. apakah bid'ah semua sedangkan yang dimakan beda.. ?!

Tugas kita memperlihatkan mana yg baik... Jadi agen muslim yg baik. Tapi nanti yg memberi hidayah itu Allah, krn Allah lah yg membolak balikkan hati manusia.

Sekarang ada orang yang hijrah dari yang buruk menjadi baik. Namun ada juga orang yang Zuhud... meninggalkan yg baik menjadi lebih baik lagi.. ini bukan berarti menyendiri hidup di gua hanya sholat saja. Nanti dptnya hanya pahala sholat. Tapi coba dia turun ke desa, bermasyarakat, membantu yg kesusahan...itu kan lebih besar pahalanya dan lebih bermanfaat.
Contohnya lagi ..sekarang tren nih nongkrong bareng teman.. Istilahnya ngupi2 cantik...... Yang dimakan halal, cara berpakaian syar'i... Tapi kalau ga ada tujuannya...jadi yg ga ada manfaatnya. Ujungnya malah ngomongin orang.
Apapun aktivitas kita harusnya ada manfaatnya. Entah itu silaturahim, atau bisnis. Yang ga boleh itu yang tidak membawa Allah dalam urusan kita... hati2 bisa jadi maksiat lho.

Kalau kita tahu sesuatu itu ada keburukannya, ada yang dirugikan, harusnya ga perlu dalil halal haram lagi..langsung tinggalkan saja.
Contohnya : rokok

Jadi, apa yang dimaksud dengan Islamic Lifestyle alias Kehidupan yang Syar'i tadi ?

Perhatikan ayat Allah berikut :

Qs Al Bayyinah ayat 5

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Qs Al Dzariyat : 56

Kandungan QS. Adz Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ  
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"

Ibadah --- seperti budak yg menghamba pada tuannya.
Jaman dulu, hidup sang budak semua itu tergantung apa kata tuannya. Pokoknya demi kepentingan si tuan.
Tapi Manusia menjalankan perintah Allah itu utk kepentingan manusia, bukan utk Allah. Allah itu sudah Maha Kaya duluan lho.

Mukhlissina lahud diin : orang yg ikhlas memurnikan agama.
Diin - agama : dari kata ketaatan menjalankan perintah Allah.
Madinah : org2 yg taat menjalankan perintah Allah
Kalau tidak murni, biasanya org melakukannya krn tujuan selain Allah. Ingat : Segala perbuatan tergantung dari niatnya.
Mari dilatih lagi niatnya bagaimana. Harus bener dari awal.
Dakwah itu harus memenangkan hati, bukan dg aturan keras dan kecaman.
Itulah kenapa, para Sunan Wali Sanga dulu pas awal2 idul adha, yg disembelih hanya kambing atau kerbau. Tidak sembelih sapi.

Hunafa : yang lurus
Agama yg lurus adalah yg menegakkan sholat dan menunaikan zakat.
Aqiimussholaah : hablumminallah
Menunaikan zakat : hablumminannaas

Allah tdk akan ridha :
Yg ahli ibadah, sujud melulu, tp pagi2 sudah gibah, memaki2 orang, ga mau sosialisasi...berarti belum hablumminannas
Yg rajin sosialisasi, ramah dan suka menolong, tp ga mau sholat... Sama ajah.
Memurnikan itu harus setiap hari, kita hrs berupaya jadi lebih baik terus.

Kuncinya : harus dzikir terus mengingat Allah.

Lagi sytress tahu2 adzan, ini sebetulnya saat utk menghilangkan stress. Pakailah wudhu sbg ajang persiapan, krn kita akan memasuki dimensi lain utk bertemu dg Allah...yaitu sholat.

Baca audzubillahi minasy syaitonirrojiim dg khusyu, coba deh.. Seakan2 artinya menempel di bibir.
Coba sebelum sholat..
Yakinkan, bahwa kita ini berlindung pada Allah saja. Bukan yang lain.
Apa sih yg Allah tidak bisa bantu, Apa yg Allah tdk bisa tolong.
Apa yg kamu takutkan ? Allah tahu kok apa masalah kita... Lalu Kenapa tidak datang dan minta pertolongan pada Allah saja ?
Kenapa masih gelisah, masih takut dan khawatir ?
Kenapa masih tidak YAKIN bahwa pertolongan Allah itu dekat?
Masalahnya akhlak kita sama Allah gimana.
Wong Allah tahu kok isi hati kita... tapi ditunggu kapan kita mau minta sama Allah.
Allah beda dg manusia.. Allah semakin diminta semakin senang. Bedaaa dg manusia, sekali dua kali kita minta mungkin masih senang... tp makin lama makin eneg.
Kalau dikasih ujian Allah suruhnya kita tuh hanya sabar dan sholat. Allah itu yang kasih ujian, Allah juga kok yang akan menyelesaikan.. Karena sudah disebutkan di Asmaul Husna.. nama yang pertama2 harus kita yakini... Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sayangnya melebihi kasih dari orangtua.. kenapa masih tidak percaya kalau solusinya ada pada Allah ?
Itu baru baca taawudz saja harusnya getarannya sudah bikin merinding. Coba deh diperbaiki lagi sholatnya.

Sabar itu bukan pasrah diam saja ya bu..
Tapi menahan potensi buruk yg bisa muncul dr dirinya..sambil tetep berikhtiar. Insya Allah kalau ikhtiarnya poll, hanya waktu yang akan menjawab hasilnya.

Mari... Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu saat ada masalah. Jadi hamba yang ikhlas menjalankan aturan Allah, baik yang ibadah menuju Allah atau menolong sesama manusia.

Terima kasih sudah membaca.
Semoga bisa dipetik hikmahnya.
Wassalamualaikum wrwb.